November 24, 2016

Kriteria Perjanjian Rindu

Setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Itu kodrat alam semesta. Meskipun ada perjanjian tak tertulis untuk menggambarkan penolakan terhadap rindu yang mungkin tumbuh, tapi tetap saja, manusia tak luput dari kesalahan.

Perjanjian-perjanjian rindu apa saja yang kau sepakati sebelum perpisahan itu tiba menghampiri?

1. Jangan teteskan air mata di pagi hari.
Penguasa pagi hari itu harusnya embun, tapi kenapa malah air mata yang mengoyakkan kelopak-kelopak bunga taman hati? Memang, kenyataan akan senantiasa memupuskan asa yang terpendam, sebut saja ingin bertemu. Tapi air mata juga tidak akan membasuh keinginan tersebut, kan?

Januari 19, 2016

Apa Aku Cukup Baik?

Hai. Ketukan pertama pada papan ketik ini menunjukkan pada pukul tiga sore dan aku masih dengan secangkir expresso — yang sudah kupesan dari dua jam yang lalu. Ya, kami sudah janjian untuk bertemu menyelesaikan masalah yang kami alami saat ini.

“Kamu besok bisa jam berapa?”

“Jam 12 saja. Aku masih sibuk dari pagi.”

“Oke. Kutunggu di tempat biasa.”

Begitu isi percakapan tadi malam. Dan sepertinya dia masih sibuk hingga malam nanti.

---------------------

Tiga minggu yang lalu, masih tergambar jelas saat dia sedang memergokiku sedang bergandengan dengan perempuan lain.

Desember 18, 2015

Pilu

"Hai, selamat pagi!"

"Ini siapa?"

"Lihat saja namanya siapa. Semangat buat hari ini, ya!"

Tertulis, Andri.

Dasar tidak sopan. Katanya tadi malam ingin menelpon pacarnya dengan alibi sinyal. Dia malah dapat nomer baruku, dan aku 'dipaksa' untuk punya nomernya.

Iya, pacarnya dia. Aku tidak salah ngomong.

Kita sudah tidak ada hubungan sejak dia kuliah di luar negeri. Dengan alasan jarak, rasanya sangat manusiawi jika aku tidak akan memberikan kepercayaanku kepada lelaki buaya itu.

Benar saja, seminggu setelah kepergiannya, kulihat instagram-nya dan dia meng-upload foto berpelukan dengan seorang gadis berwajah keturunan latin.

Setelah 5 tahun sejak kepergiannya, Andri kembali dengan membawa perasaan tanpa berdosa ke tanah air dan mengajakku makan malam.

Juni 12, 2015

Sebut Saja, Bahagia

Kita sedang tertawa menertawai dinding. Dinding yang bahkan tak tau dimana letak kesalahannya hingga harus kita tertawai dengan kalap.

“Apa kau bahagia?”

“Ya, tentu.”

“Kalau begitu, mari kita pindah. Hahaha.”

Lalu dinding yang tenang tadi berubah menyerupai sebuah taman dengan sebuah kursi panjang yang terlihat nyaman.

Setengah Pelengkap

"Cause everything I have, I gotta give it for you, cause you are my everything."

Tak peduli, jika kau tak memiliki sepasang sayap utuh, kau akan tetap menjadi milikku yang sempurna, jika di kesunyian malam, kau merindukan suara dan wajahku, panggilah aku dengan nada mesra milikmu, kiss me in a late night, dan aku akan hadir di sisimu, menyelimutimu dengan ketentraman, meskipun kau terus menggigil olehnya. Jika kau sedetik kemudian memikirkanku, just call me baby, I'll wake up to come with you.

Mengobati rasa sakitmu, mengobati pedihmu diantara ruas sayapmu yang putus, tapi aku percaya untuk sebuah kekuatan, cinta dan kesetiaan yang sama-sama kita pupuk, akarnya telah menyerabut hingga jantung kehidupan, dan kau bisa mempercayaiku untuk menjadi setengah sayapmu yang hilang, karena cinta tak pernah memandang raga seorang. Karena cinta membuktikan mampu meggenapkan hati yang dulunya ganjil dan aku tak pernah menyesal bisa hidup bersama denganmu.


-teruntuk para difabel.

April 09, 2015

Dia, Semesta, dan Masa Lalu

“Kamu ke mana saja selama ini?”

Suara yang tak pernah lagi terdengar sejak beberapa tahun terakhir itu tiba-tiba saja muncul, dengan pertanyaan yang cukup membingungkan.

Ke mana saja?

Aku?

Selama ini?

-----------

Ia teman masa kecilku, bersama dengan beberapa teman lainnya, kami sering menghabiskan waktu bersama, belajar mengaji di salah satu rumah tetangga, bermain seluncuran dengan pelepah kelapa kering di bukit di belakang komplek perumahan, jogging bersama di minggu pagi, bahkan menemani mereka bermain kelereng atau benteng-bentengan.