Januari 19, 2016

Apa Aku Cukup Baik?

Hai. Ketukan pertama pada papan ketik ini menunjukkan pada pukul tiga sore dan aku masih dengan secangkir expresso — yang sudah kupesan dari dua jam yang lalu. Ya, kami sudah janjian untuk bertemu menyelesaikan masalah yang kami alami saat ini.

“Kamu besok bisa jam berapa?”

“Jam 12 saja. Aku masih sibuk dari pagi.”

“Oke. Kutunggu di tempat biasa.”

Begitu isi percakapan tadi malam. Dan sepertinya dia masih sibuk hingga malam nanti.

---------------------

Tiga minggu yang lalu, masih tergambar jelas saat dia sedang memergokiku sedang bergandengan dengan perempuan lain.

Ingin kuakui dia sahabatku? Aku sudah terlanjur mencium kepalanya dan mengelus rambutnya.

Ingin kuakui dia adikku? Kami sudah terlanjur suap-suapan terlalu mesra.

Ingin kuakui dia tanteku? Bodoh.

“Berhentilah mencari alasan!” teriaknya. Bagaimana dia ta…

“Jangan ganggu aku lagi!” belum sempat kulanjutkan pikiranku, segelas es jeruk sudah disambarnya untuk dilempar duluan.

---------------------

“Perempuan memang begitu, ya? Sakit hatinya lama. Susah sekali untuk memberi maaf. Toh, hanya sekedar khilaf. Siapa yang suruh dia jadi membosankan? Siapa yang suruh dia jadi sibuk dengan dunianya sendiri? Padahal aku hanya…”

Cring!

Lamunanku dibuyarkan dengan lonceng tanda pintu kedai kopi yang sedang dibuka. Aku langsung tersentak dengan kedatangan orang itu. Ya, aku hapal betul wajah pun dandanannya itu.

“Hai. Ada perlu apa?”

Aku terdiam.

Satu detik. Dua detik. Cukup lama, tak kuhitung berapa lama aku bergumam sendiri dan menikmati kegugupan itu.

Tunggu, aku tidak menikmatinya.

Bagaimana tidak, aku duduk di meja yang dikhususkan untuk obrolan empat mata, tapi lelaki itu menggeser kursi dari meja kosong sebelah dan menempatkannya di antara kami.

Lelaki.

Ya, dia bawa teman laki-lakinya.

“Oh, ya, kenalkan. Dimas.”

Saat masih berharap itu temannya, “Sampah. Secepat ini?” membatin sambil bersalaman dengannya. Cukup canggung. Ada pikiran melayang-layang kalau tak sekedar teman.

Apa aku harus tanya, ini siapa? Aku hanya berharap jawabannya kalau tidak adik kandung, ya, sepupu. Bukan sahabat, apalagi pacar. Tapi, jikalau bukan, kenapa mereka berjalan menghampiriku tadi sambil bergandengan tangan?

“Siapa nih?” Bodoh! Sudah terlepas pertanyaan tak berguna ini, malah kulapisi dengan nada basa-basi dan tawa kecil.

“Pacar. Ngomong-ngomong ada apa mengajakku ketemuan?” Bisakah kau membalasnya dengan basa-basi juga? Kau bilang kan tadi ‘kenapa mengajakku?’, itu berarti aku hanya mengajakmu. Kenapa kita malah jadi bertiga duduk dengan si sialan ini?

“Tak apa. Aku hanya ingin bertemu sebelum berpisah untuk waktu yang lama.” Kuselingi lagi dengan tawa sekilas.

“Mau kemana?”

“Pindah. Sudah bosan disini.” Jujur. Ini bukan jawaban yang seharusnya. Obrolan enam mata benar-benar menghancurkan rencana awalku.

“Benarkah? Kenapa?” Pertanyaan yang akan menghabiskan waktuku kalau kujawab secara jujur. Walaupun sebenarnya sampai malam pun tak apa, kalau kami berbicaranya dengan bebas, tanpa gangguan, tanpa pengganggu.

“Tak ada alasan. Hanya bosan.” Aku terus menjawabnya sambil memberikan sunggingan kecil pada sudut bibir ini.

“Ya sudah, hati-hati ya.”

Aku tak begitu bodoh. Kalau indra keenam untuk melihat hal gaib, indra kesekianku sangat kental kala aku tahu apa yang sebenarnya ada dalam otak dan perasaanmu. Kau ingin menanyakan lebih jauh mengenai hal itu, kan? Kau ingin menanyakan alasannya, kan? Bahkan kau ingin melarangku, kan?

Bukan sok tau. Tiga tahun lebih aku sudah mengenalmu. Tatkala seperti pasangan yang menghitung maju usia hubungan mereka dalam rentang bulanan, sudah empat puluh bulan kita bersama. Sifat baikmu? Aku sudah mengaguminya. Sifat burukmu? Aku sudah hapal akan itu. Cita-citamu? Aku sudah bosan kala kamu mengutarakannya terus menerus ketika melihat orang lain meraihnya terlebih dahulu. Sempat tahun kedua, kamu membuat kesalahan dan menyia-nyiakan kepercayaanku, tapi tetap komitmen yang kita buat juga pasti untuk kebaikan kita. Jelas malamnya kamu berjanji bahwa itu tak akan terulang lagi kedua kalinya. Sudah kutebak, permintaan maaf itu akan muncul dari mulutmu dan akan kuterima. Aku memang orang yang baik—terlalu baik mungkin kalau diperhatikan oleh orang lain, sejam setelah aku menemukanmu berdampingan dengan orang lain saja aku sudah memaafkanmu. Bahkan ingin menemuimu lagi, tapi tidak karena gengsi ini keterlaluan untuk aku kalahkan.

Selang empat setengah bulan, kamu kulihat sedang bermain dengan laptopmu di sebuah kedai kopi. Terlihat asik, dan sangat menikmati waktumu. Kupandang saja dari kejauhan sudah cukup membuatku senang. Ketika kau gulirkan badan untuk bersender, ada tangan yang melingkari bahu mungilmu. Sedetik kemudian, bola mata kita bertemu dan kamu salah tingkah dan melepaskan rangkulan itu. Aku tahu kamu ingin menghampiriku dan beralasan untuk dapat menjelaskannya. Tapi gerak-gerikmu tertahan seiring lelaki di sebelahmu malah memelukmu dari belakang.
Lalu, bagaimana selanjutnya? Besok siangnya, kita sudah jalan seperti biasa, menjemputmu dari kampus, nonton bioskop, makan, hingga mengantarmu pulang hingga depan rumahmu. Seperti tak ada yang terjadi. Seperti kamu melupakannya, dan berharap aku lupa, dan kamu tak perlu minta maaf, lagi.

Ya, memang aku melupakannya.

“Bodoh! Apa yang kau pikirkan? Kamu tahu apa yang kamu lakukan?” Kurang lebih begitulah yang dikatakan teman-temanku. Benar mungkin kata orang-orang, aku terlalu baik.

Sekarang, aku berniat mau minta maaf atas kejadian tiga bulan yang lalu. Tapi keinginan itu kuhempaskan begitu saja. Berniat ingin memperbaikinya dari awal. Berniat ingin menguji apakah kita masih bisa seperti biasa kalau dalam status LDR. Berniat seperti orang lain yang masih dapat menghabiskan waktu bersama meskipun hanya dihubungkan dengan sinyal dan internet, dan berniat saling menghabiskan waktu untuk temu kangen ketika kita bertatap muka setelah dipisahkan oleh ruang dan waktu.

“Ya, terima kasih.”

Aku tersenyum.

Lihat, aku masih bisa tersenyum.

Aku masih bisa merasakan senang bahkan saat kamu hanya mengucapkan hati-hati—yang dengan kata lain kamu biasanya memperhatikanku, apapun dari diriku. Masih bisa merasakan bahagianya diperhatikan, sesimpel itu.

Cukup baik kah aku? Atau bahkan kurang?

Kurasa aku sudah baik untuk hal ini.

“Aku duluan ya, jaga diri.” Aku bersalaman dengannya, canggung memang. Menjabat tangan yang dulu kudekap bahkan saat aku tidak kedinginan, hanya sekedar untuk membuktikan bahwa aku ada untuk dirinya, begitu juga sebaliknya. Kita pernah bersalaman untuk perpisahan juga, tapi tak untuk waktu yang lama. Tak untuk jarak yang jauh. Dan, tak untuk keadaan yang seperti ini.

Bahagialah dengan orang lain.

Masih ingatkan, ketika aku sudah cukup bahagia melihatmu nyaman dengan bersantai dan menikmati waktumu ketika di kedai kopi waktu itu?

Bahagiaku akan berlebih apalagi ketika kamu juga bahagia.

Bahagia karena apapun.

Karena siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar