April 09, 2015

Dia, Semesta, dan Masa Lalu

“Kamu ke mana saja selama ini?”

Suara yang tak pernah lagi terdengar sejak beberapa tahun terakhir itu tiba-tiba saja muncul, dengan pertanyaan yang cukup membingungkan.

Ke mana saja?

Aku?

Selama ini?

-----------

Ia teman masa kecilku, bersama dengan beberapa teman lainnya, kami sering menghabiskan waktu bersama, belajar mengaji di salah satu rumah tetangga, bermain seluncuran dengan pelepah kelapa kering di bukit di belakang komplek perumahan, jogging bersama di minggu pagi, bahkan menemani mereka bermain kelereng atau benteng-bentengan.

Semua keakraban itu hilang begitu saja, ketika satu-persatu kami melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di tempat yang berbeda. Aku tak pernah lagi bisa bermain dan menghabiskan waktu bersamanya, bahkan sekedar bercakap pun tidak. Terlebih setelah keluargaku pindah rumah, bisa dikatakan aku tak pernah lagi melihat batang hidungnya.

Tapi terlalu sombong jika kukatakan aku tak pernah bertemu dengannya, dengan jarak antar sekolah yang tidak jauh, hanya terpisah oleh sebuah jalan kecil, yang membuat kami sering berpapasan, bahkan mengikuti ekstrakurikuler yang sama di sekolah masing-masing, serta rutin mengadakan latihan gabungan. Kami masih sering berjumpa, namun dengan tidak keadaan dan kebahagiaan yang sama.

Namun, kedekatan di masa kecil itu tidak pernah kembali, aku selalu beranggapan bahwa dia telah melupakanku, sahabat masa kecilnya, dan aku tetap tak menghiraukannya sementara dia juga tak pernah berusaha untuk mendekatiku dan mengupas memori lampau bersamaku.

Kemudian hal tak terduga tiba-tiba datang, seorang junior dari sekolahnya yang baru kukenal menceritakan segalanya tentang dia, yang seringkali bercerita tentangku kepadanya. Ini aneh, dan tentu saja aku sangat terkejut, toh perkiraanku selama ini salah, dia tak gampang melupakan seperti yang aku kira. Memang apa yang dilihat oleh mata tak selalu sebanding dengan yang ada di hati. Tapi hal-hal semacam itu tetap saja tak menolong hubunganku dengannya, kami tetap tenggelam dalam diam.

----------

Enam tahun berlalu, teman-teman masa kecilku bersepakat mengadakan reuni, sekaligus perayaan kembalinya salah seorang teman yang bersekolah jauh ke seberang pulau. Aku turut andil dalam perencanaan reuni itu, dan tidak merasa keberatan sama sekali ketika mereka memutuskan untuk mengundangnya untuk turut serta.

Setelah semuanya diputuskan, waktu dan tempat juga sudah disesuaikan, semuanya datang, berkumpul dan saling bercengkerama satu sama lain. Sebuah suasana yang lama tak pernah kurasakan lagi ketika berada di dekat mereka. Pun ketika dia mendekatiku, berbasa-basi, kemudian mengajak berbincang di luar. Semua teman menyuruhku mengkutinya yang telah berada di atas motornya, menantiku naik untuk kemudian membawaku berkeliling menjelajahi kenangan.

----------

Selanjutnya, semua bisa menebak apa yang terjadi. Reuni kala itu tak sekadar reuni teman masa kecil, aku berani mengatakannya sebagai reuni cinta pertama. Rasanya seperti kembali ke masa yang sama, namun dengan perasaan yang berbeda. Ibaratnya, dia pergi dan datang, dan aku hanya tinggal di tempat, kemudian kami dibawa ke rasa yang telah pudar dalam sebuah pertemuan yang memaksaku untuk kembali mengingat kebahagiaan sejati untuk anak-anak dalam masa romansanya. Namun akhir dari reuni itu memiliki ujung yang terlalu rumit. Kapan waktu mungkin akan kuceritakan. Tidak sekarang. Tunggu saja sampai masa lalu itu kembali, sampai perasaan cinta ala bocah waktu itu terungkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar