Januari 19, 2016

Apa Aku Cukup Baik?

Hai. Ketukan pertama pada papan ketik ini menunjukkan pada pukul tiga sore dan aku masih dengan secangkir expresso — yang sudah kupesan dari dua jam yang lalu. Ya, kami sudah janjian untuk bertemu menyelesaikan masalah yang kami alami saat ini.

“Kamu besok bisa jam berapa?”

“Jam 12 saja. Aku masih sibuk dari pagi.”

“Oke. Kutunggu di tempat biasa.”

Begitu isi percakapan tadi malam. Dan sepertinya dia masih sibuk hingga malam nanti.

---------------------

Tiga minggu yang lalu, masih tergambar jelas saat dia sedang memergokiku sedang bergandengan dengan perempuan lain.

Juni 12, 2015

Sebut Saja, Bahagia

Kita sedang tertawa menertawai dinding. Dinding yang bahkan tak tau dimana letak kesalahannya hingga harus kita tertawai dengan kalap.

“Apa kau bahagia?”

“Ya, tentu.”

“Kalau begitu, mari kita pindah. Hahaha.”

Lalu dinding yang tenang tadi berubah menyerupai sebuah taman dengan sebuah kursi panjang yang terlihat nyaman.

Setengah Pelengkap

"Cause everything I have, I gotta give it for you, cause you are my everything."

Tak peduli, jika kau tak memiliki sepasang sayap utuh, kau akan tetap menjadi milikku yang sempurna, jika di kesunyian malam, kau merindukan suara dan wajahku, panggilah aku dengan nada mesra milikmu, kiss me in a late night, dan aku akan hadir di sisimu, menyelimutimu dengan ketentraman, meskipun kau terus menggigil olehnya. Jika kau sedetik kemudian memikirkanku, just call me baby, I'll wake up to come with you.

Mengobati rasa sakitmu, mengobati pedihmu diantara ruas sayapmu yang putus, tapi aku percaya untuk sebuah kekuatan, cinta dan kesetiaan yang sama-sama kita pupuk, akarnya telah menyerabut hingga jantung kehidupan, dan kau bisa mempercayaiku untuk menjadi setengah sayapmu yang hilang, karena cinta tak pernah memandang raga seorang. Karena cinta membuktikan mampu meggenapkan hati yang dulunya ganjil dan aku tak pernah menyesal bisa hidup bersama denganmu.


-teruntuk para difabel.

April 09, 2015

Dia, Semesta, dan Masa Lalu

“Kamu ke mana saja selama ini?”

Suara yang tak pernah lagi terdengar sejak beberapa tahun terakhir itu tiba-tiba saja muncul, dengan pertanyaan yang cukup membingungkan.

Ke mana saja?

Aku?

Selama ini?

-----------

Ia teman masa kecilku, bersama dengan beberapa teman lainnya, kami sering menghabiskan waktu bersama, belajar mengaji di salah satu rumah tetangga, bermain seluncuran dengan pelepah kelapa kering di bukit di belakang komplek perumahan, jogging bersama di minggu pagi, bahkan menemani mereka bermain kelereng atau benteng-bentengan.

Maret 04, 2015

Turut Bahagia, Kak

"Kau tahu kakak itu?"

"Anak basket itu? Aaah, kau menyukainya ya?"

"Jangan mengada-ada. Jangan buat gosip!"

"Baiklah, asal kau tahu. Pacarnya itu anak modelling. Mau bersaing dengan dia? Jangan harap."

"Oh ya? Yang mana dia?"

"Itu! Dia sedang dengan bersama gerombolannya!" tunjuknya.

Kulihat kemana jari telunjuk Nana terarah.

Dia

"Hahaha! Dasar orang aneh."

Dia menertawaiku.

"Lihat dirimu. Rasanya sudah tak perlu aku menyuapkan makanan ke mulutmu itu kan?"

Dia mengejekku.

"Ayo bertumbuhlah, kau lupa akan perjanjian kita? Kita akan sukses bersama-sama! Apa kau sudah menyerah?"

Dia meremehkanku.